Senar Fatwa Mendunia, Langkah Awal Menuju Muslimah Berdaya

0
157

SEMAFSIALAZHAR.MY.ID Kairo-Minggu, 19 Maret 2023- Serial Webinar Fatayat Warotsatul Ummah (SENAR FATWA) merupakan acara perdana dan baru diadakan pada tahun ini oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah (SEMA-FSI) Universitas Al-Azhar. Senar Fatwa adalah salah satu perwujudan misi 2.0 yang dicanangkan oleh ketua SEMA-FSI masa bakti 2022-2023. Saat pelaksanaannya, acara ini diampu oleh divisi keputrian SEMA-FSI bekerjasama dengan organisasi dan komunitas pelajar yang ada di dalam maupun luar negeri.

Bukan tanpa alasan, workshop ini hadir sebagai sebuah solusi dan juga sarana bagi muslimah untuk mengaktualisasikan diri dalam berperilaku, cara berpikir, dan keterampilan bicara. Acara yang berlansgsung selama 3 hari, dari tanggal 10 sampai 12 Maret 2023 tersebut mengundang 3 pemateri yang kompeten pada bidangnya; Dea Aulia, B.S. sebagai pemateri Self Leadership, Faramuthya Syifaussyauqiyya, Lc. sebagai pemateri Critical Thinking, Siti Khumairotuzzahra, M.Pd. sebagai pemateri Public Speaking.

“Keputrian SEMA-FSI sebagai sarana, prasarana, dan wadah yang bergerak khusus pada peningkatan kualitas masisirwati syariah islamiyah secara fikriyah dan ruhiyah, memiliki tugas dalam pengembangan potensi dan karakter masisirwati syariah islamiyah melalui kegiatan yang berkaitan dengan kreativitas dan keilmuan bernafaskan Islam. Dalam momentum Hari Perempuan Sedunia yang diperingati tanggal 8 Maret 2023 kemarin, Keputrian SEMA-FSI menghadirkan acara SENAR FATWA yang merupakan program pemberdayaan perempuan yang diharapkan dapat memupuk juga menumbuhkan skill karakter muslimah.

Dalam program pemberdayaan perempuan ini, keputrian SEMA-FSI mengadakan tiga webinar fundamental guna meningkatkan keberdayaan perempuan Indonesia umumnya, dan masisirwati khususnya. Webinar pertama dengan tema self leadership agar setiap perempuan mampu menjadi pemimpin atas dirinya sendiri dan mampu memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan. Kedua adalah critical thinking yang menjadi skill fundamental bagi perempuan agar mampu berpikir kritis dengan menganalisis fakta dan memecahkan setiap masalah yang dihadapinya. Terakhir adalah Public Speaking agar perempuan semakin berani untuk bersuara dan menyampaikan pendapatnya. Kami berharap dengan adanya program ini, bisa menjadi salah satu bentuk upaya untuk membuat perempuan lebih maju, berdaya, dan kritis.” (Fatia Rizka, Wakil Ketua II SEMA-FSI).

Day 1: Self Leadership

Dalam webinar self leadership, Kak Dea Aulia B.S. memaparkan bahwa menjadi pemimpin berarti siap dipimpin, hal itu telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pernah meminta nasihat kepada Ali bin Abi Thalib, Usamah, dan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhum saat peristiwa haditsul ifki, karena menjadi seorang pemimpin berarti menempatkan orang lain di atas diri sendiri untuk sebuah visi dan misi.

Kak Dea juga memparkan tentang pilar-pilar kepemimpinan,

“Pilar Kepemimpinan itu ada lima: perkataan yang benar, menyimpan rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasihat dan menunaikan amanah.” (Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu)

Menutup webinar hari pertama, Kak Dea berpesan kepada audiens,

“Kamu harus menjadi orang yang ketika wafat, kehidupanmu banyak dikenang orang. Kamu harus mencari tempat dimana kamu dihargai. Kita sebagai seorang pemimpin pun harus memiliki kontrol yang baik agar dapat menempatkan dirinya secara proporsional, hal itu dilakukan agar orang yang berpikiran sempit dapat menerima ambisi kita”

Day 2: Critical Thinking

Webinar hari ke-2 diisi oleh Kak Faramuthya Syifaussyauqiya, Lc. dengan materi critical thinking.

“Kemampuan berpikir kritis bukanlah tentang seberapa banyak informasi yang dimiliki oleh seseorang. Bahkan belum tentu seseorang yang memiliki ingatan yang begitu baik dan tahu begitu banyak fakta memiliki critical thinking dalam dirinya, namun critical thinking adalah sebuah pola pikir untuk mengetahui bagaimana konsekuensi terhadap apa yang mereka tahu. Mereka yang memiliki kemampuan berpikir ini biasanya akan lebih tahu bagaimana memanfaatkan informasi yang diterima sebagai metode penyelesaian sebuah masalah. Selain itu, mereka juga bisa mencari informasi yang relevan.”

Pada kesempatan webinar ini, beliau juga memberikan rekomendasi aksi kepada audiens untuk memerhatikan beberapa hal, diantaranya: mempelajari ilmu mantiq dan tauhid, diskusi dengan orang yang tepat, banyak menulis, ikut forum diskusi, membaca buku, dan merancang ide atau hal baru.

Day 3: Public Speaking

Public Speaking adalah sebuah bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau topik di hadapan banyak orang.” Tutur Kak Siti Khumairotuzzahra, M.Pd.

Membuka webinar dihari ke-3, Kak Humay menyampaikan setidaknya ada beberapa hal yang harus disiapkan untuk melakukan public speaking, yaitu kamu harus mengetahui siapa objek public speaking kamu, lalu topik apa yang akan kamu bahas beserta urgensinya, kapan, dimana, dan bagaimana kamu akan menyampaikan materi public speaking tersebut. Beliaupun menerangkan tentang teknik, kompetensi, dan tips public speaking. Agar dapat diterima dan dipahami lebih baik, beliau menyediakan sesi simulasi public speaking sebagai bentuk realisasi dari materi yang sudah beliau sampaikan sebelumnya.

“Berbicara itu bukan sekadar merangkai kata dalam sebuah kalimat. Berbicara itu lebih kepada bagaimana kita menyampaikan sebuah nilai (value), pesan dari pembicara kepada audiens. Artinya apa? Dari gaya bicara, kita dapat mengenal karakteristik seseorang.” Tutur Kak Humay menutup webinar di hari terakhir.

Penulis: Husna Nurul Adila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here